Kamis, 16 Agustus 2012

Budidaya Padi Gogo

Selain ditanam pada lahan sawah tanaman padi juga bisa dibudidayakan pada lahan kering atau sering kita sebut dengan budidaya padi gogo rancah. Pada sistem budidaya padi gogo rancah seolah-olah kita anggap tanaman padi seperti tanaman palawija. Sehingga kebutuhan air dalam sistem ini sangatlah minim. Sistem budidaya padi gogo biasanya dilakukan pada tanah-tanah yang kering atau tanah tadah hujan. Kelebihan sistem tanam gogo rancah dibanding sistem sawah diantaranya adalah penghematan tenaga kerja tanam, penghematan tenaga kerja pemeliharaan dan tentunya lebih menghemat waktu. Adapun kekurangan cara tanam gogo rancah adalah produksi yang dihasilkan tidak sebesar dengan sistem tanah sawah.

A. Penyiapan lahan
  1. Tanah diolah pada kondisi kering sebelum musim hujan.
  2. Peningkatan produktivitas, tanah perlu diberi bahan organik (pupuk hijau, pupuk kandang, kompos) sebanyak 5-10 t/ha.
  3. Pengolahan tanah dapat dilakukan secara olah tanah sempurna (OTS), olah tanah minimum (OTM), dan atau tanpa olah tanah (TOT).

B. Penanaman
  1. Waktu tanam secara tepat dengan memperhitungkan hujan karena akan menentukan keberhasilan padi gogo. • Penanaman dilakukan dengan cara tugal (4-5 biji/lubang).
  2. Benih yang dibutuhkan adalah 40 kg/ha untuk monokultur.
  3. Jarak tanam 40 x 15 cm atau 30 x 30 cm.
  4. Lokasi baru yang banyak terdapat ulat grayak, uret, dan lalat bibit, benih perlu dicampur dengan insektisida butiran Furadan atau Dharmafur dengan takaran 2 kg/20 kg benih.
  5. Penanaman padi gogo dapat dilakukan bersama tanaman lain.


C. Pemupukan
  1. Urea, SP36, dan KCl sesuai kesuburan tanah setempat.
  2. Urea diberikan ½ bagian pada saat tanaman berumur 14 hari setelah tugal bersama dengan keseluruhan takaran SP36 dan KCl.
  3. Sisa urea diberikan saat tanaman berumur + 40 hari setelah tugal.
  4. Pemberian pupuk disertai dengan penyiangan.
  5. Seluruh pupuk diisikan dalam larikan yang dibuat sepanjang baris tanaman pada saat tanah dalam kondisi lembab, kemudian tutupkembali dengan tanah atau dengan cara tugal pada jarak + 5 cm dari lubang tanam sedalam 7 cm.

D. Pengendalian gulma
  1. Pada saat pengolahan tanah.
  2. Penyiangan manual secara rutin menggunakan sabit, parak.
  3. Penggunaan herbisida.

E. Pengendalian hama dan penyakit
  • Hama: Lundi/uret, lalat bibit, penggerek batang, wereng coklat, walang sangit, dan tikus.
  • Penyakit: Blast dan bercak coklat.

F. Panen
  1. Dilakukan sebaiknya pada fase masak panen dengan ciri kenampakan 90% gabah sudah menguning.
  2. Panen pada fase masak lewat panen, yaitu saat jerami mulai mengering, pangkal malai mulai patah, dapat mengakibatkan banyak gabah rontok saat panen.
  3. Sebaiknya panen dilakukan dengan sabit bergerigi dan perontokan dengan pedal tresher.
  4. Perontokan dengan memukul-mukul batang padi pada papan sebaiknya dihindari, karena menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar sampai 3,4%.

    sumber : http://www.gerbangpertanian.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar